Tidak salah memang pendapat itu jika menyaksikan Festival Lembah Baliem. Festival yang merayakan datangnya hari Kemerdekaan Indonesia. Berbagai desa memperagakan peragaan ulang berbagai kasus perang di antara kampung mereka. Lengkap dengan lempar-lemparan tombak dan saling tembak panah. Bedanya dengan dulu tidak ada yang luka.
Tahun lalu pesta ini diselenggarakan di Dugum Dani desa awal di mana penelitian itu berlangsung. Sebanyak seribu lebih warga dari tujuh kecamatan hadir. Bahkan dari masyarakat Yali dari Abenaho yang berada di luar Lembah Baliem hadir. Mereka pun memeragakan penyebab dan taktik perang.
Strategi perang sih sederhana saja. Awalnya membalas dendam yang asal-muasalnya kerap tidak jelas lagi. Hanya saja ada pemicu awal. Contohnya yang diperagakan berbagai desa adalah penculikan warga, pembunuh anak warga, penyerbuan ladang yang baru dibuka.
Setelah begini penyerbuan pun dilakukan. Sementara lawan, yang biasanya sudah tahu, akan bertahan. Jadilah pertempuran terjadi di tengah lapang luas. Lapangan seperti ini yang dipakai di luar kampung Dugum.
Warga kecamatan Kurulu yang tahun ini menjadi tuan rumah. Artinya mereka menyediakan tempat bagi tamu yang bermalam ke sana. Malam diisi dengan pesta dansa, dan konon juga saling gaul. Kebebasan yang mungkin jadi penyebab kasus HIV tertinggi di Indonesia ada di Papua. Tahun lalu di Kurima. Juga peragaan perang dilakukan di tengah padang rumput. Ini terus berulang dari tahun ke tahun, sejak awalnya di tahun 70an.
Bahkan pada festival terakhir ini tarian perang, begitu acara itu sekarang disebut, sudah dilarang. Namun, menurut Zakeus Daby salah seorang guru dari Kurulu, masyarakat minta izin tetap dilakukan perang-perangan. Dan memang dari keseluruhan atraksi itu hanya tarian perang yang seru.
Bahkan pada pertunjukan-pertunjukan pertengahan ketika desa Kurulu berlagak suasana makin seru. Lempar-lempar semakin tipis melesetnya. Panah berterbangan tinggi melewati kepala penonton di tepi lapangan. Lari makin cepat, merunduk makin rendah. Wisatawan asing yang jumlahnya hampir seratus kelihatan makin bergairah.
Boleh jadi wisata di Indonesia terpuruk. Tetapi di Papua, jelas kunjungan wisatawan mancanegara meningkat. ”Ini jumlah yang terbesar selama ini, hotel kami penuh,” jelas resepsionis di Baliem Pilamo salah satu dari hanya tiga hotel berkelas di Wamena.
Keluhan penuhnya hotel pun datang dari para pegawai dan pebisnis yang berkiprah di Wamena. Mereka mengeluh karena tidak kebagian tempat. Bahkan mereka khawatir tidak bisa berkendaraan. Maklum keluar masuk Lembah Baliem hanya ada transportasi udara. Cuaca buruk menghambat penerbangan.
Sayang, acara yang ditunggu-tunggu juga tidak tertata rapih. Undangan pukul sembilan pagi, sementara acara baru mulai tengah hari. Itu pun hanya mengandalkan pemandangan serta eksotisme budaya yang tidak seberapa canggih. Biaya per orang dari Jayapura untuk menikmati sepekan di Lembah Baliem mencapai tujuh juta rupiah. Wisatawan sudah banyak datang ke sana, termasuk empat pasang dari Jogyakarta dan Jakarta, pemenang undian Telkomsel.
Paling tidak ini membuktikan daya tarik besar dari wisata di Indonesia. Tidak harus terkonsentrasi pada Bali maupun kejadian yang memperpuruk bangsa. Masih luas dan beragam yang bisa ditawarkan Indonesia. Di antaranya Festival Lembah Baliem yang bisa jadi daya tarik utama wisata kita kini.
sumber : http://liburan.info
No comments:
Post a Comment