Tuesday, May 1, 2012

Makam Pangeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro
 
Makam Pangeran Diponegoro yang berada di Jl. Diponegoro, Makassar, adalah salah satu jejak dari sekian usaha yang gagal untuk mengusir kolonialis Belanda dari tanah air, khususnya Jawa. Pangeran Diponegoro memimpin Perang Jawa yang legendaris (1825-1830) melawan kekuasaan Belanda, yang merupakan salah satu perang terbesar dan terlama dan menimbulkan kerugian sangat besar bagi pemerintah kolonial Belanda.

Pangeran Diponegoro pun dipikat untuk datang ke markas Belanda di Magelang untuk melakukan perundingan perdamaian pada 28 Maret 1928, namun dijebak dan kemudian ditangkap serta dipenjara di Ungaran. Selanjutnya Pangeran Diponegoro dipindahkan ke Semarang, Batavia, dan Manado, sebelum akhirnya dipenjara di Benteng Rotterdam, Makassar sejak 1834 sampai ia wafat pada 8 Januari 1855.
Kompleks Makam Pangeran Diponegoro ini relatif kecil, dan berada di lingkungan pertokoan serta permukiman yang padat dan panas, di tengah kota Makassar. Tulisan pada gapura Makam Pangeran Diponegoro menunjukkan statusnya sebagai Pahlawan Nasional.

Makam Pangeran Diponegoro

Jasad Pangeran Diponegoro dalam kompleks Makam Pangeran Diponegoro ini diletakkan bersebelahan dengan jasad istrinya, yaitu R.A. Ratu Ratnaningsih yang wafat di tahun yang sama, 1855.

Makam Pangeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro dinaungi cungkup berbentuk bangunan khas Jawa yang bergaya joglo.

Makam Pangeran Diponegoro

Meskipun kecil, Makam Pangeran Diponegoro terlihat bersih dan lumayan terawat, dinaungi beberapa pohon hijau tanggung yang memberi sedikit pemandangan kehijauan dan keteduhan.

Makam Pangeran Diponegoro

Sebuah makam bergaya Jawa dengan simbol kerajaan pada batu nisannya.

Makam Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro adalah anak tertua dari Sultan Hamengku Buwana III, Raja Mataram, Yogyakarta. Ia lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta dari isteri selir bernama R.A. Mangkarawati yang berasal dari Pacitan. Nama asli sang pangeran adalah Raden Mas Mustahar, dan kemudian diubah pada 1805 oleh Hamengkubuwono II menjadi Bendoro Raden Mas Ontowiryo, dan akhirnya menjadi Pangeran Diponegoro setelah diangkat menjadi Pangeran.
Konon ada beberapa kali usaha untuk memindahkan Makam Pangeran Diponegoro ke Jawa, atau ke tempat lain yang lebih baik, namun usaha ini tampaknya ditentang oleh pemerintah daerah setempat, yang beranggapan bahwa Pangeran Diponegoro telah menjadi simbol nasional, bukan hanya pahlawan Jawa saja, dan juga untuk melestarikan riwayat sang pangeran yang menghabiskan 21 tahun dari masa hidupnya di Makassar.



sumber
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...