Saturday, August 21, 2010

Candi Pari

Candi Pari di Desa Candipari, Kecamatan Porong, semakin merana. Objek wisata budaya dan sejarah yang sebenarnya bisa dijadikan andalan ekonomi masyarakat sekitar ini terkesan mangkrak, tidak terurus.

Tak ada seorang pun pengunjung ke sana. Padahal, saat itu anak-anak sekolah tengah menikmati liburan panjang. "Pengunjungnya, ya, sampeyan sendiri," kata Maryati, pemilik warung di depan Candi Pari.

Maryati, yang juga istri Tasmin, salah satu juru kunci Candi Pari, menambahkan, dalam sebulan terakhir ini praktis tidak ada pengunjung yang ingin menapak tilas perjalanan sejarah di Kabupaten Sidoarjo. Beberapa waktu lalu, kata Maryati, sempat ada rombongan wisata anak-anak sekolah dari Tulangan.

"Setelah itu nggak ada lagi. Makanya, jualan saya nggak laku-laku," tukas wanita ini seraya tersenyum. Kunjungan dari pejabat, turis asing, hingga peneliti pun tak ada.

Maryati memperkirakan, minimnya pengunjung ke kompleks Candi Pari karena objek wisata itu tidak punya sarana hiburan anak-anak seperti kolam pemandian dan fasilitas bermain lainnya. Ini berbeda dengan beberapa tempat hiburan anak-anak di Tulangan atau Tanggulangin yang lebih menghibur.

Apa yang bisa dinikmati di Candi Pari selain tumpukan batu berusia ribuan tahun? Daya tarik untuk hiburan dan rekreasi di mana? Begitu komentar beberapa warga yang sempat berbincang dengan saya di kompleks Candi Pari.

Satu-satunya jalan untuk 'menghidupkan' Candi Pari adalah dengan menciptakan fasilitas rekreasi dan hiburan.

"Selama ini orang cuma lihat dari mobil saja, nggak sampai turun. Lain dengan dulu, mereka turun untuk lihat-lihat atau beli makanan," keluh Ny Maryati.

Dijumpai di rumahnya, Desa Wunut, sekitar satu kilometer dari Candi Pari, seniman senior Sukarno melihat kasus Candi Pari ini sangat kompleks. Persoalan utama, katanya, pengelolaan Candi Pari (dan candi-candi lain di Sidoarjo) berada di tangan Dinas Purbakala. Pemkab Sidoarjo, khususnya Dinas Pariwisata-Budaya, tidak ikut-ikutan dalam mengelola candi peninggalan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Jenggolo itu.

"Saya bisa mengerti karena biaya perawatan tidak kecil. Apalagi, kalau harus dikembangkan menjadi objek wisata sejarah budaya di Sidoarjo," kata Sukarno, yang juga mantan ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.

Andai saja Pemkab Sidoarjo punya uang dan komitmen pariwisata-budayanya tinggi, Karno yakin banyak yang bisa dilakukan untuk menata ulang objek wisata Candi Pari dan Candi Sumur. (Candi Sumur hanya terpaut sekitar 70 meter dari Candi Pari, sama-sama terletak di Desa Candipari.) Dan, itu membutuhkan biaya sangat besar.

Kalau mau, lanjut Karno, pemkab membebaskan rumah-rumah di kompleks dua candi itu sehingga ada hamparan yang luas. Nanti ada objek wisata utama (Candi Pari dan Candi Sumur), tempat jual-beli suvenir, stan PKL, areal parkir, perpustakaan, museum dan dokumentasi sejarah, dan fasilitas lainnya.

Selama Candi Pari dan Candi Sumur dibiarkan 'apa adanya' seperti sekarang, Karno pesimistis kawasan itu bisa menjadi andalan wisata Kabupaten Sidoarjo. Kompleks candi hanya sekadar situs tua yang semakin lama semakin kehilangan pesona.

Apa boleh buat, kompleks Candi Pari tidak memberikan efek berganda di bidang ekonomi kepada warga sekitar dan Kabupaten Sidoarjo. "Itu semua tergantung visi para pemimpin, baik di eksekutif maupun legislatif," tukas Karno.

Dalam bayangan seniman senior ini, kompleks Candi Pari dan Candi Sumur bisa didesain menjadi objek wisata terpadu dengan sentra industri Tanggulangin. Sebab, jarak antara Tanggulangin (khususnya Intako) dan Candi Pari sangat dekat. "Seharusnya setelah belanja di Tanggulangin, mampir ke Candi Pari," kata Sukarno, yang juga pelukis dan pembina seni tradisi itu.


Mustain (45 tahun), juru kunci Candi Pari dan Candi Sumur di Desa Candi Pari sejak hampir satu tahun terakhir tergolek lemah di rumahnya. Pak Tain, sapaan akrabnya, lumpuh total akibat stroke.

ENTAH apa penyebab Mustain menderita penyakit yang selama ini disebut-sebut hanya monopoli orang-orang 'papan atas'. Bagaimana mungkin wong cilik, sederhana, aktif bergerak, berjemur di terik matahari, bisa stroke? Ada apa?
Begitulah pertanyaan spontan yang beredar di kalangan warga kompleks Candi Pari.

"Mungkin sudah diatur begitu oleh Yang Kuasa (Tuhan). Kita ini nggak tahu kapan kita sakit atau meninggal," ujar Maryanti, istri Tasmin, juru kunci 'cadangan' pengganti Mustain, kepada saya.

Mustain, ayah tiga anak, selama ini identik dengan Candi Pari. Informasi apa pun tentang candi bersejarah itu hanya bisa diperoleh dari dia. Mustain ibarat kamus hidup tentang Candi Pari dan Candi Sumur, kemampuan yang belum bisa dikuasai oleh tiga 'juru kunci' cadangan yang ada sekarang.

Sayang sekali, dalam kondisi stroke berat Mustain tidak bisa berbicara, apalagi harus bercerita secara runut kayak dulu. Dia hanya tidur, beristirahat, dan dilayani keluarganya. "Kasihan sekali, Mas. Moga-moga Gusti Allah bisa memberi kesembuhan karena usianya masih belum sepuh. Dulu sampeyan kan lihat sendiri orangnya sangat lincah," tambah seorang warga Desa Candipari.

Memang. Ketika Candi Pari dan Candi Sumur direnovasi oleh pemerintah pusat, Mustain ibarat 'saksi ahli' merangkap pekerja lapangan. Maklum, pengalaman selama 20 tahun lebih membuat Mustain hafal semua detail candi. Bagian mana saja yang hilang, batu yang berpindah, mana yang rusak karena lumut, dan seterusnya sangat dikuasai.

Keterangan beliau sering dipakai sebagai bahan penulisan 'sejarah' Candi Pari dan Candi Sumur. Sejarah asli dua candi itu tidak begitu jelas tercatat dalam naskah-naskah resmi. Mustain pun sangat menguasai hikayat atau cerita rakyat seputar keberadaan Candi Pari dan Candi Sumur.

Menurut Pak Tain, Candi Pari dan Candi Sumur adalah simbol kemakmuran dan kesejahteraan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. "Pari sebagai simbol padi, sementara sumur sebagai simbol air untuk memasak. Keduanya tidak bisa dipisahkan," ujar Mustain beberapa bulan lalu ketika masih segar-bugar.

Untuk menanak nasi, lanjut dia, kita perlu air. Dan, kedua bahan penting ini (padi dan sumur) bisa kita peroleh dengan mudah dari bumi. Kehadiran Candi Pari dan Candi Sumur di Sidoarjo secara tak langsung menceritakan kepada kita, di zaman sekarang, bahwa pada masa lalu Kerajaan Jenggolo (wilayah Sidoarjo sekarang) adalah lahan subur.

Bahkan, Jenggolo disebut-sebut sebagai lumbung pangan untuk Majapahit. Sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Maha Kuasa, penguasa tempo doeloe mendirikan Candi Pari yang bersebelahan dengan Candi Sumur. Akankah Kabupaten Sidoarjo tetap bertahan sebagai sentra pertanian, atau lahan pertaniannya terus dikonversi menjadi perumahan dan industri? Begitu kira-kira gugatan 'bisu' dari dua candi tersebut.

Bagi Mustain, juru kunci benda cagar budaya sekaliber Candi Pari dan Candi Sumur bukanlah profesi biasa. Ia berbeda dengan profesi-profesi lain yang bisa diraih berkat pendidikan, penataran, atau pelatihan. Juru kunci sejati, kata Pak Tain, tidak sekadar tukang buka dan tutup pintu kompleks candi. Kalau sekadar begitu sih semua orang bisa, katanya.

Dalam bahasa agak filosofis, tugas juru kunci adalah membuka segala 'pintu' yang tertutup dengan 'kunci' pengetahuan dan pengalaman yang ia miliki. Selama 20 tahun lebih Pak Tain sudah membuka 'pintu' Candi Pari dan Candi Sumur kepada begitu banyak orang.

Mudah-mudahan saja ada orang yang masih sempat mencatat penjelasan Pak Tain, syukur-syukur membukukannya. Jangan sampai kita kehilangan informasi berharga seputar Candi Pari dan Candi Sumur gara-gara Pak Tain stroke berat.

sumber : http://hurek.blogspot.com/2007/03/candi-pari-di-sidoarjo.html
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...