Thursday, December 30, 2010

Jogja Hip Hop Foundation


Sabtu, 04 Desember 2010

Judul : Hip Hop Diningrat
Sutradara : Muhammad Marzuki, Chandra Hutagaol
Pemain : Kill the Dj, Soimah
Produksi : Jogja Hip Hop Foundation
Genre : Dokumenter

Film dibuka dari set New York, AS awal mula musik hip-hop. Lalu, ada Elizabeth Inandiak, penulis dan peneliti asal Prancis, yang pernah mengupas tentang musik hiphop dan serat Centhini. Dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar, ia memaparkan bagaimana perkembangan awal genre hip-hop. Terbang ke Jogja, lewat grafis sebuah peta, ada sekelompok anak muda yang memomulerkan musik hiphop. Dari Rotra, Jahanam, G-tribe, hingga Kill the Dj.

Masing-masing memaparkan apa yang melatarbelakangi mereka mengeluti musik hip hop, dan kenapa mereka memilih lirik berbahasa Jawa dalam lagu-lagunya. Tidak hanya sekadar lirik bahasa Jawa biasa, tapi juga ada yang memuat syair atau sajak dari penyair hebat Tanah Air. Seperti karya-karya Saut Situmorang, Wiji Tukul, hingga Sindhunata. Perjalanan hip hop Jogja berlanjut dengan adanya Jogja Hip-hop Foundation.

Tidak sesuai namanya, Foundation, ini bukanlah sebuah yayasan, tapi sebuah komunitas penyanyi hip hop Jogja yang berkumpul dan memasyarakatkan musik hip hop ala mereka. Lalu, wawancara berlanjut dari sejumlah pihak yang pernah bergelut di dunia musik hip-hop Tanah Air. Ada Saykoji yang memberi testimoni, dan Iwa K yang dianggap sebagai salah satu pionir rapper di Indonesia. Lalu, ada para penyair, seperti Sindhunata, Saut, hingga Butet Kertaredjasa.

Dan digelarnya Poetry Battle 1 dan 2, sebagai medium yang lebih besar. Sedikit nyeleneh, film ini menghadirkan pendapat orangtua para musisi Jogja Hip hop Foundation yang menggelitik, lugu dan polos. Serta Soimah, sinden yang bergabung dengan Kill the Dj untuk berduet dan kemudian bisa tampil di Esplanade, Singapura. Januari depan, mereka dijadwalkan tampil di New York dan San Fransisko.

Apresiasi Positif Pada dasarnya, film ini mere kam jejak perjalanan Jogja Hip Hop Foundation, yang digagas oleh Mohamad Marzuki atau Juki Kill the DJ. Dari sejak awal berdirinya, ia telah merekam beberapa kejadian penting, dan tidak penting. Lewat film ini, semua rekaman itu dikemas lagi dengan pilihan adegan yang disusun runut sehingga bisa bercerita dengan baik. Di antaranya, kemudian ada selipan wawancara yang membuat film ini berasa lebih meluas dan mengena.

Perkembangan musik hip hop yang meski berasal dari belahan negara luar, tapi dibuat tumbuh dan berkembang dengan sentuhan tradisi, seperti berbahasa Jawa dan kostum batik. Hampir sebagian besar testimoni memberi apresiasi positif. Hip hop rasa Jawa dianggap sebagai salah satu upaya cerdas dalam menyikapi selera dan perkembangan musik.

Menariknya, perpindah an wawancara narasumber diselingi dengan gambar-gambar yang turut mendukung. Sehingga tampil tidak membosankan. Apalagi kemudian, suguhan musik hip hop yang ber dentum menjadi musik pengiring yang turut mendukung.

Penampilan dan proses perjalanan sekelompok musik hip hop dan rapper ini tidak hanya jujur dan sederhana tapi juga menginspirasi. Karena, mereka tidak hanya bermusik biasa, tapi juga mengapresiasi sajak, karya sastra lama yang sudah lama tak dipegang anak-anak muda, serta memiliki rasa bangga dengan batik saat manggung.
rai/L-4

 
 
 
sumber :  http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=69385
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...