Tuesday, June 28, 2011

Farah Angsana, Desainer asal Medan

     
     Memiliki rumah mode dengan label sendiri di Paris, Perancis, sejak tahun 2000, Farah adalah perancang busana asal Indonesia yang pertama kali mementaskan karya-karyanya di Haute Couture Fashion Week (pekan adibusana) berbagai pusat mode dunia. Sempat mengkhususkan diri merancang busana pria, kini Farah kembali menekuni busana pesta dan gaun malam. Suzy Menkes, redaktur mode International Herald Tribune menyatakan, garis rancang Farah menunjukkan gaya pria yang percaya diri. Sebagian besar pengguna adibusana Farah adalah orang-orang kaya asal Arab Saudi.

     Lahir di Medan (Sumatera Utara) pada 9 April 1971, bakat modenya sudah nampak sejak kanak-kanak. Ya, Farah kecil suka merancang busana ibu dan kakak-kakaknya. Tidak heran bila kemudian ia memilih belajar rancang busana dan teknik adibusana di Central School of Fashion, London. Lulus tahun 1992, wanita rendah hati ini sempat bekerja sebagai pengarah gaya.

     Menikah dengan Pius Gasser, pemilik perusahaan keuangan Swiss, Farah pindah ke Zurich - mengikuti suami tercinta. Tapi farah tidak bisa meninggalkan dunia mode. Tahun 1999, ia memulai debutnya sebagai perancang adibusana di London. Setahun kemudian, sang suami pula menyeponsori pendirian rumah mode Farah di Paris. 

     Dibesarkan di berbagai kota besar dunia: Singapura, Los Angeles, London, dan kini wira wiri antara Zurich, Paris, Italia dan berbagai kota seluruh dunia, Farah tidak melupakan Indonesia. Pemerhati mode tentu paham, unsur-unsur budaya Indonesia yang terdapat pada karya-karya Farah seperti batik dan kain ikat. Farah memang mengaku selalu menggali inspirasi dari Indonesia. Tidak sekedar lewat literatur, ia sering datang langsung ke Indonesia. Alasannya, ternyata nromantis.

     "Saya ingin menunjukkan kepada dunia betapa cantiknya Indonesia. Indonesia kaya akan budaya dan sumber daya alam, sehingga setiap kali saya kembali ke sini, saya selalu mendapat banyak inspirasi," tutur wanita rendah hati ini pada Media Indonesia, Agustus 2010 saat ia 'pulang' ke Jakarta. Satu lagi, meski sehari-hari lebih sering menggunakan bahasa Inggris dan Perancis, Farah tetap bisa bahasa Indonesia lho. Ia pun tetap rendah hati dan ramah pada siapa saja. (MGH/Foto: Koleksi Pribadi)
 
 
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...