Wednesday, November 16, 2011

Pelabuhan Karawang Pengganti Tanjung Priok


PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II akan menggelar tender terbatas pembangunan pelabuhan dan terminal peti kemas di Karawang, Jawa Barat. Pemenang tender tidak akan membangun sendiri pelabuhan seluruhnya, melainkan sebatas mitra.

Direktur Utama Pelindo II Richard Jose Lino menyatakan, Pelindo II membutuhkan mitra dalam pembangunan Pelabuhan dan Terminal Karawang karena kebutuhan dananya besar. Hitungan awal, kebutuhan dana untuk membangun pelabuhan di atas lahan 10.000 hektare itu mencapai Rp 6 triliun.
"Dalam rencana kami, strategi pengembangannya harus bekerjasama dengan perusahaan perkapalan. Kami akan mengundang setidaknya lima perusahaan untuk ikut tender terbatas," kata Lino.
Kapasitas Pelabuhan Karawang mencapai 10 juta TEUs kontainer per tahun.
Lino menuturkan hingga saat ini sudah banyak yang berminat mengikuti tender tersebut, khususnya perusahaan asing. Meskipun enggan menyebut para peminat, Lino tidak membantah jika perusahaan perkapalan asal Perancis CMA-CGM merupakan salah satu perusahaan yang serius ingin ikut dalam pembangunan Pelabuhan Karawang.
"CMA-CGM sebelumnya pernah berminat membangun pelabuhan di Batam tetapi tidak jadi. Mungkin karena itulah mereka akhirnya berminat ke Karawang," jelas Lino.
Lino mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah memproses perizinan Pelabuhan Karawang. Ia berharap izin segera terbit agar proses pembangunan segera dilakukan. Pada proses normal, pembangunan sebuah pelabuhan makan waktu 10 tahun. Tapi dia berharap pemerintah membantu agar pembangunan selesai dalam lima tahun.
Pelindo II memilih Karawang sebagai lokasi karena dekat dengan kawasan industri di Cikarang, Karawang, Purwakarta, dan Subang yang saat ini memasok 70% barang ke Pelabuhan Tanjung Priok.
Sekretaris Perusahaan Pelindo II Rima Novianti menambahkan, dalam waktu dekat Pelindo II akan melakukan feasibility study di proyek tersebut. Pelindo II akan memfungsikan sebagai multi-purpose port alias pelabuhan multi fungsi. "Di sana banyak industri, sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan industri dengan layanan terminal kontainer," kata Rima.
Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono sebelumnya menyatakan pemerintah mendukung pembangunan pelabuhan alternatif di luar Tanjung Priok tidak akan mampu lagi melayani ekspor dan impor yang terus meningkat.
Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkuan Laut Toto Dirgantoro menambahkan, asosiasinya sangat mengidamkan pelabuhan peti kemas yang lebih dekat dengan pusat produksi industri. Karena dapat menekan biaya pengiriman dari dan menuju pelabuhan Tanjung Priok sampai 40%.



sumber
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...